
English Competency Test & English Practical Examination
SMP Islam Al Azhar 22 Sentra Primer
20–23 April 2026
Bukan ujian biasa. Bukan sekadar menjawab soal di balik meja. Kali ini, ujiannya adalah panggung. Dan panggung tak pernah lunak pada mereka yang hanya mengandalkan teori.
SMP Islam Al Azhar 22 Sentra Primer dengan berani menguji nyali para murid kelas 7 dan 8. Selama empat hari, satu per satu maju ke depan. Tanpa teman di samping. Tanpa buku catatan. Hanya mereka, mikrofon, waktu 5–7 menit, dan keberanian yang harus mereka ciptakan sendiri.
Untuk Kelas 7: Pulang ke Pelukan Kenangan
22–23 April 2026 – Tema: Describing My Parents’ Hometown
Seorang anak kelas 7 berdiri di hadapan empat juri: dua guru bahasa Inggris mereka, dan dua penutur asli dari Turki. Jantung berdebar. Keringat dingin merayap. Lalu ia menarik napas, dan mulai berbicara.
Ia tidak berbicara tentang robot atau luar angkasa. Ia berbicara tentang kampung halaman orang tuanya. Rumah kayu di tepi sawah, pohon mangga tempat ayahnya bermain, jalan berbatu yang selalu dilalui ibunya saat kecil. Ia sedang tidak sekadar menyusun kata dalam bahasa Inggris. Ia sedang membangun jembatan antara masa lalu keluarganya dan dunia saat ini.
Empat juri menyimak dengan hati:
- Hj. Muslichah– bijaksana, matanya berkaca-kaca mendengar anak muda bicara tulus.
- Arifah Annisa Rahayu, S.Pd– guru yang setiap hari melihat keberanian tumbuh perlahan.
- Aisyah Luthfia, S.Akun (ESL Tutor)– paham bahwa keberanian bicara lebih berharga dari kesempurnaan tata bahasa.
- Wafiqah Alsyurafah dari Turki– tamu dari negeri jauh yang pasti tersentuh, karena rindu kampung halaman adalah bahasa universal.


Untuk Kelas 8: Menjadi Pendongeng Masa Depan
21–22 April 2026 – Tema: Story Telling
Sehari sebelumnya, giliran kelas 8. Mereka harus menghidupkan sebuah kisah. Bercerita bukan sekadar mengucapkan kata, tapi membuat pendengar – termasuk native speaker dari Mesir – ikut merasakan haru, takut, dan bahagia tokoh dalam cerita.
Mereka dinilai oleh:
- Hj. Muslichah– mercusuar ketenangan di tengah badai grogi.
- Arifah Annisa Rahayu, S.Pd– senyumnya suntikan keberanian diam-diam.
- Nur Aisyah Karim, M.Pd (ESL Tutor)– tahu betul rasanya belajar bahasa asing dari nol lalu mengajarkannya dengan hati.
- Hazeem Elkady dari Mesir– dari negeri Sungai Nil, duduk diam mendengar anak kelas 8 bercerita tentang kura-kura, singa dan tikus, atau anak yatim yang menemukan sepatu. Dan Hazeem akan terkesima, karena cerita yang baik tak butuh paspor untuk menyentuh hati.
Ini bukan sekadar ujian. Ini pembuktian keberanian.

SMP Islam Al Azhar 22 tidak hanya mengajar bahasa Inggris. Mereka memaksa murid-muridnya menggunakannya. Di atas panggung. Di depan juri asing. Dengan hati berdebar, tapi tekad membara.
Kepada setiap murid yang akan berdiri dengan mikrofon:
- Jika suaramu bergetar, itu wajar.
- Jika lupa kata-kata, itu manusiawi.
- Tapi jika kau tetap maju meski takut,
- Itulah yang akan kau kenang seumur hidup.
- Bahwa kau pernah – di usia 12 atau 13 tahun –
- Berani bicara dalam bahasa yang bukan ibumu,
- Tentang kisah atau kampung yang sangat berarti,
- Di depan orang-orang dari negeri seberang.
- Itu bukan nilai. Itu bukti:
Dirimu lebih berani dari yang kau kira.
Selamat berjuang, para pemberani kecil. Dunia menanti cerita-ceritamu.
20–23 April 2026
Satu panggung. Ribuan keberanian.
Dan hati-hati yang tak akan pernah sama lagi setelahnya.